IHSG mengalami penurunan signifikan di awal 2025, menyentuh 6.300 pada akhir Februari β level terendah sejak pandemi Covid-19. Meski lebih kecil dibanding crash Maret 2020, penurunan ini tetap berdampak besar. Kali ini, penyebab utama adalah keluarnya dana asing, sentimen global yang buruk, serta penyesuaian indeks MSCI. Beberapa saham yang sebelumnya naik berlebihan (overvalued) juga mengalami koreksi besar.
Berbeda dengan krisis 2020 yang disebabkan oleh kepanikan akibat pandemi, penurunan 2025 lebih bertahap dan lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi makro global serta aksi jual investor institusi, bukan hanya karena penjualan saham oleh pemegang saham mayoritas.
π Kenapa IHSG Turun di Awal 2025?
IHSG jatuh sekitar 11% dalam sebulan dan 14% dari puncaknya di awal 2024. Penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor utama:
1οΈβ£ Investor Asing Tarik Dana dari Pasar Saham Indonesia
Investor asing menarik dana hampir Rp 19 triliun dalam beberapa bulan terakhir. Mereka mengurangi investasi di Indonesia dan mengalihkan dana ke pasar yang dianggap lebih aman atau lebih menarik, seperti saham AS dan China.
Penyebab utama keluarnya investor asing:
β
IHSG dianggap mahal dibanding pasar negara lain. Misalnya, rasio price-to-earnings (PER) IHSG masih di 13-14x, lebih tinggi dari Malaysia yang hanya 12x.
β
Kekhawatiran ekonomi global, termasuk ancaman perang dagang baru dan kebijakan bank sentral AS (The Fed) yang masih mempertahankan suku bunga tinggi.
β
Penyesuaian indeks MSCI, di mana bobot saham Indonesia berkurang. Tiga saham besar (MDKA, INKP, UNVR) bahkan dikeluarkan dari indeks utama MSCI, sehingga banyak dana asing menjual saham tersebut.
2οΈβ£ Sentimen Global Memburuk
Situasi global tidak mendukung pasar saham, termasuk IHSG:
π Suku bunga AS masih tinggi β Investor cenderung memilih pasar dengan bunga lebih menarik daripada saham di negara berkembang.
π Nilai tukar rupiah melemah hingga Rp 16.500 per USD β Investor asing makin enggan bertahan di pasar Indonesia.
π Ancaman perang dagang akibat kebijakan tarif AS β Bisa berdampak negatif pada ekonomi Indonesia.
3οΈβ£ Saham-Saham βGorenganβ dan Overvalued Ikut Tumbang
Banyak saham yang sebelumnya naik terlalu tinggi (overvalued) akhirnya mengalami koreksi besar, seperti:
π» BREN (Barito Renewables Energy) β Sebelumnya naik gila-gilaan, PER-nya mencapai 845x! Sekarang mulai rontok hampir 50% dari puncaknya.
π» GOTO & BUKA β Saham teknologi yang dulu digoreng akhirnya turun lagi karena masih merugi.
π» Saham IPO baru seperti OBAT, DATA, FUTR β Saham yang sempat naik berlebihan tanpa fundamental kuat kini anjlok lebih dari 10-15% dalam sehari.
π Perbandingan IHSG 2025 vs Krisis Pandemi 2020
| Tahun | Penyebab Utama | Pola Penurunan | Seberapa Parah? |
|---|---|---|---|
| Maret 2020 | Pandemi Covid-19, kepanikan global | Crash mendadak dalam hitungan hari | -37% dalam 2 bulan |
| Februari 2025 | Investor asing keluar, valuasi mahal, faktor global | Bertahap selama beberapa minggu | -14% dari puncak 2024 |
π Perbedaan utama:
- 2020 β IHSG turun drastis dan cepat akibat kepanikan pandemi.
- 2025 β Turun lebih lambat dan lebih banyak dipengaruhi faktor global serta aksi jual investor asing.
π Persamaan:
- Keduanya mencapai level 6.300, titik terendah dalam beberapa tahun.
- Setelah crash 2020, IHSG bangkit dan mencetak rekor baru dalam 3 tahun. Jika tren ini berulang, ada harapan IHSG bisa pulih dalam beberapa waktu ke depan.
π Saham-Saham Paling Terdampak
Berikut 10 saham yang paling anjlok pada 28 Februari 2025:
| Saham | Penurunan (%) | Harga (Rp) |
|---|---|---|
| JAWA (Jaya Agra Wattie) | -17,69% | 107 |
| OBAT (Brigit Biofarmaka Teknologi) | -15,44% | 575 |
| DATA (Data Sinergitama Jaya) | -14,30% | 240 |
| GREN (Green Power Group) | -13,61% | 254 |
| MLPL (Multipolar) | -11,02% | 113 |
| MPPA (Matahari Putra Prima) | -10,17% | 53 |
| FUTR (Lini Imaji Kreasi) | -9,29% | 127 |
| PTSN (Sat Nusapersada) | -8,59% | 234 |
| SMGR (Semen Indonesia) | -7,72% | 2.390 |
| BBNI (Bank Negara Indonesia) | -7,14% | 4.030 |
π Saham kecil dan spekulatif mengalami koreksi paling besar (JAWA, OBAT, DATA).
π Saham besar seperti BBNI dan SMGR juga ikut turun karena aksi jual investor asing.
π Apakah Penjualan Pemegang Saham Mayoritas Penyebab Utama?
Tidak. Penurunan ini lebih banyak disebabkan oleh aksi jual investor institusi dan asing, bukan pemegang saham mayoritas.
Memang ada beberapa pemegang saham yang menjual sahamnya, tapi dampaknya terbatas, misalnya:
π» Pemegang saham mayoritas ULTJ menjual sebagian sahamnya (dari 50% ke 49,81%), tapi ini tidak mempengaruhi IHSG secara keseluruhan.
π» Investor institusi seperti HSBC dan CGS Securities menjual saham BUMI & SQMI, yang lebih berdampak ke pasar secara luas.
Jadi, bukan pemegang saham mayoritas yang bikin IHSG jatuh, tapi lebih karena keluarnya dana asing dan sentimen global yang negatif.
π Kesimpulan: Apakah IHSG Bisa Bangkit Lagi?
β Ya, ada peluang rebound!
Sejarah menunjukkan IHSG selalu bisa bangkit dari krisis. Setelah jatuh 37% pada 2020, IHSG kembali mencetak rekor baru dalam 3 tahun berikutnya. Jika faktor global mulai stabil dan valuasi saham jadi lebih menarik, investor bisa kembali masuk ke pasar.
π Apa yang bisa dilakukan investor?
πΉ Jangan panik jual saham berkualitas. Beberapa saham blue-chip malah berpotensi naik saat market pulih.
πΉ Hindari saham gorengan & overvalued. Saham dengan valuasi tidak masuk akal seperti BREN atau saham IPO spekulatif bisa jatuh lebih dalam.
πΉ Perhatikan arus dana asing. Jika asing mulai masuk kembali, IHSG bisa kembali naik.
Sejauh ini, penurunan IHSG lebih disebabkan faktor eksternal daripada masalah fundamental dalam negeri. Meski pasar masih bisa berfluktuasi dalam jangka pendek, sejarah membuktikan IHSG selalu bisa pulih dalam jangka panjang. ππ
Sumber Referensi: CNBC Indonesia, Bisnis.com, StockWatch, Bareksa, IDX, Kontan, IDNFinancials.
