Angka pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61% saat ini memunculkan sebuah anomali besar. Di atas kertas, Indonesia tampak tangguh, namun di lapangan, masyarakat merasakan tekanan hidup yang kian berat. Fenomena ini bukan sekadar perasaan kolektif, melainkan hasil dari pergeseran struktur ekonomi yang patut diwaspadai.
1. Pertumbuhan yang Disubsidi Pemerintah
Pertumbuhan ini didorong secara agresif oleh Belanja Pemerintah melalui program sosial dan infrastruktur, serta investasi di sektor padat modal. Ini adalah bentuk pertumbuhan yang “disubsidi”; negara jor-joran berbelanja untuk menjaga angka tetap tinggi di saat konsumsi rumah tangga yang biasanya menjadi motor utama justru melambat.
2. Kontraksi Pajak Produk Neto: Bukti Pelemahan Konsumsi
Bukti paling valid dari lesunya ekonomi rakyat adalah Pajak Produk Neto yang terkontraksi minus 1,10%. Penurunan ini adalah sinyal bahaya. Jika ekonomi benar-benar sehat dari aktivitas warga, pajak dari transaksi barang dan jasa seharusnya naik. Angka negatif ini mengonfirmasi bahwa mesin utama ekonomi—yakni konsumsi warga—sedang mogok akibat daya beli yang tergerus.
3. Efek Kurs dan Inflasi Impor
Pelemahan Rupiah yang sempat menyentuh level Rp 17.000-an menjadi pukulan telak bagi industri dalam negeri. Biaya impor bahan baku melonjak, yang kemudian dibebankan kepada konsumen dalam bentuk harga final yang lebih mahal. Akibatnya, terjadi penurunan nilai riil uang: nominal gaji mungkin tetap, namun jumlah barang yang didapat jauh lebih sedikit.
4. Fenomena Makan Tabungan (Dissaving)
Data menunjukkan masyarakat kelas menengah bawah kini berada dalam fase “makan tabungan”. Pertumbuhan ekonomi tetap muncul karena aktivitas belanja tetap ada, namun uangnya bukan berasal dari kenaikan penghasilan, melainkan dari menguras simpanan untuk masa depan. Ini adalah pola pertumbuhan yang rapuh dan tidak berkelanjutan.
5. Kesenjangan Upah dan Beban Pengeluaran Riil
Kenaikan harga kebutuhan pokok seperti pangan dan energi tidak dibarengi dengan kenaikan upah yang sepadan secara riil. Di sisi lain, munculnya berbagai kebijakan iuran atau pajak baru di awal tahun semakin mempersempit disposable income (uang siap belanja), membuat ruang gerak finansial keluarga semakin terjepit.
Ekonomi kita saat ini sedang mengalami distorsi yang nyata. Secara makro, angka terlihat sehat karena suntikan belanja negara, namun secara mikro, penurunan pajak neto menjadi bukti sah bahwa dompet masyarakat sedang mengalami tekanan hebat di tengah fluktuasi mata uang dan inflasi.
