Dulu, Semua Orang Merasa Punya GoTo
Bulan April 2022 menjadi momen euforia. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) resmi menjadi perusahaan publik dengan harga Rp338 per lembar saham. Semua orang antusias. Lebih dari 300.000 investor, termasuk ribuan mitra pengemudi dan UMKM, berbondong-bondong membeli saham, merasa bangga menjadi bagian dari “kebanggaan nasional.” Total dana yang terkumpul mencapai angka fantastis: Rp15,8 triliun.
Kini, Uang Publik Menguap 80% Lebih
Namun, hanya dalam waktu dua setengah tahun, cerita manis itu berubah pahit. Pada pertengahan November 2025, harga saham GOTO terperosok ke kisaran Rp60 hingga Rp65.
Jika Anda membeli saham Rp1 juta saat IPO, nilainya kini tersisa sekitar Rp180.000. Kerugian lebih dari 80% ini adalah pukulan telak.
Angka kerugian ini bukan sekadar fluktuasi sementara, melainkan cerminan dari kehancuran modal perusahaan. Sebelum IPO (akhir 2021), total kekayaan bersih GoTo (Ekuitas) tercatat Rp139 triliun. Per Kuartal III 2025, kekayaan bersih itu anjlok drastis menjadi hanya Rp29,1 triliun. Artinya, sekitar Rp110 triliun modal (termasuk dana IPO) telah “terbakar” habis untuk membiayai pertumbuhan agresif perusahaan.
Selain itu, nilai aset bersih perusahaan per lembar saham (BVPS) saat ini hanya sekitar Rp25,52. Ini membuktikan betapa jauhnya harga IPO Rp338 yang dibayar masyarakat dulu dengan nilai aset riil perusahaan saat ini.
Klaim Untung Operasional: Antara Angka dan Kenyataan
GoTo memang memiliki kabar baik. Pada Kuartal III 2025, mereka berhasil mencatatkan laba dari kegiatan operasional harian (Adjusted EBITDA) positif sebesar Rp516 miliar, bahkan laba sebelum pajak sebesar Rp62 miliar.
Ini seperti perusahaan berhasil menghemat biaya operasional, namun masih tercekik utang lama. Mari jujur, laba ini adalah laba yang disesuaikan—belum menghitung semua beban seperti bunga dan penyusutan aset.
Secara total, GoTo masih mencatat Rugi Bersih (Net Loss) sebesar Rp775,6 miliar pada kuartal yang sama. Angka ini menegaskan: meskipun GoTo sudah lebih efisien, perusahaan belum benar-benar “untung” dalam pengertian akuntansi penuh. Modal yang ditanam investor tetap berkurang secara perlahan.
Untuk mencapai titik efisiensi ini, GoTo juga mengambil langkah drastis: melepas mayoritas saham Tokopedia ke TikTok. Keputusan ini memang mengurangi risiko di sektor e-commerce, tetapi sekaligus memangkas salah satu pilar utama yang dulu dijanjikan saat IPO.
Pola yang Berulang: Arisan Berantai Versi Legal
Kisah GOTO mirip dengan pola banyak perusahaan teknologi lain: bakar uang untuk menguasai pasar, lalu meminta dana dari publik di harga tinggi saat euforia.
Ini menciptakan skema yang secara operasional mirip dengan “arisan berantai”:
- Pemain Awal: Pendiri dan investor institusi masuk di harga murah, menikmati kenaikan valuasi fantastis, dan punya kesempatan keluar saat harga puncak.
- Pemain Belakang: Masyarakat umum (investor ritel) masuk belakangan di harga IPO yang mahal, dan berakhir menjadi penyangga modal yang ludes saat harga anjlok.
Ironisnya, skema ini disahkan oleh regulator. Apalagi, melalui Saham dengan Hak Suara Multipel (SHSM), pendiri tetap memegang kendali penuh atas perusahaan, meski uang yang mereka kelola (modal publik) telah menyusut. Investor ritel menanggung risiko terbesarnya tanpa memiliki suara yang setara dalam pengambilan keputusan.
Siapa Untung, Siapa Rugi?
Yang Benar-benar Diuntungkan:
- Pendiri dan Manajemen Inti: Tetap memegang kendali strategis berkat MVS.
- Investor Institusi Awal: Yang berhasil menjual sahamnya di harga tinggi sebelum harganya anjlok.
- Konsumen: Kita, yang sempat menikmati ojek, makanan, atau ongkir murah berkat subsidi dari uang yang dibakar.
Yang Benar-benar Menanggung Kerugian:
- Ribuan Investor Ritel: Yang modalnya ludes lebih dari 80%.
- Mitra GoTo: Driver dan UMKM yang membeli saham sebagai wujud kebanggaan, namun harus melihat tabungan mereka menyusut drastis.
- Masyarakat Umum: Yang percaya pada narasi besar “unicorn nasional.”
Pelajaran Penting untuk Calon Investor
Jika suatu saat Anda menemukan perusahaan yang:
- Belum pernah untung (laba bersih) namun meminta dana dari publik.
- Selalu menjanjikan “profit di masa depan” sambil terus membakar uang.
- Sering menggunakan istilah megah seperti “ekosistem digital” atau “disrupsi.”
- Merencanakan Right Issue: Meminta tambahan dana dari pemegang saham saat kinerja historis perusahaan (laba bersih) tidak mendukung.
Waspadalah.
Bisa jadi Anda bukan sedang berinvestasi, tetapi sedang mensubsidi bisnis mereka. Anda membantu membiayai promo dan diskon untuk pelanggan lain, bukan ikut menikmati hasil akhir yang sesungguhnya.
Penutup: Mengakui Manfaat, Mengkritik Risiko
Di satu sisi, GoTo telah membangun infrastruktur digital yang luar biasa. Ekosistemnya menyumbang Rp480,72 triliun pada PDB Indonesia (setara 2,2% PDB) dan menciptakan pekerjaan bagi lebih dari 2 juta orang. Manfaat ini nyata.
Namun, pembangunan infrastruktur digital nasional ini sebagian besar didanai oleh modal ekuitas dari investor, termasuk investor ritel, yang kini menanggung kerugian finansial yang signifikan.
Inilah paradoksnya: manfaat ekonomi dinikmati secara luas, tetapi risiko finansial terkonsentrasi pada investor ritel, sementara kendali penuh tetap berada di tangan sekelompok kecil pemegang saham istimewa. Tugas kita sebagai masyarakat dan regulator adalah memastikan: pembangunan digital harus adil, dan perlindungan investor ritel harus lebih kuat dari sekadar euforia pasar.
