Umum · 26 Desember 2025 0

Harga Pasar, Manfaat, dan Cara Membaca Nilai Sebelum Membeli Saham

Beberapa Pertanyaan Dasar Sebelum Mengambil Keputusan Investasi

Di pasar saham, sebuah keputusan sering kali bermula dari satu kesan sederhana:

“Harganya menarik.”

Kalimat ini terdengar wajar. Bahkan manusiawi. Namun, kesan ini jarang diikuti pertanyaan krusial: menarik dibandingkan apa, dan menarik bagi siapa?

Banyak orang membeli saham karena harga sedang bergerak, tren sedang naik, atau ada pemain besar yang ikut masuk. Tidak semuanya keliru. Namun, tanpa pemahaman tentang manfaat ekonomi apa yang benar-benar dibeli, keputusan tersebut mudah berubah menjadi sekadar ikut arus.

Artikel ini mengajak pembaca kembali ke dasar: menghubungkan harga pasar dengan manfaat nyata yang diterima investor, lalu menggunakan pola pikir ini untuk membaca optimisme, tren, dan aksi korporasi seperti right issue dengan lebih jernih.

Ketika seseorang membeli saham, yang dibeli bukanlah kode ticker atau suasana pasar hari itu. Yang dibeli adalah hak atas laba perusahaan di masa depan. Hak ini dapat hadir dalam bentuk dividen sekarang, atau pertumbuhan laba yang—dalam kondisi ideal—berujung pada dividen yang lebih besar atau apresiasi harga di kemudian hari.

Karena itu, pertanyaan paling awal seharusnya bukan “saham ini bisa naik sampai berapa?”, melainkan “dari harga ini, manfaat apa yang secara realistis bisa saya harapkan?”

Menghubungkan harga dengan laba: Earnings Yield

Cara paling sederhana untuk mulai menjawab pertanyaan tersebut adalah membandingkan laba per saham (EPS) dengan harga saham.

Misalnya, sebuah perusahaan mencatat EPS Rp500 dan sahamnya diperdagangkan di harga Rp10.000. Artinya, investor membayar Rp10.000 untuk mendapatkan Rp500 laba tahunan per saham.

Perhitungannya sederhana:

$$500 \div 10.000 = 5\%$$

Dalam istilah teknis, angka ini disebut earnings yield—kebalikan dari PER (Price to Earnings Ratio). Jika PER menunjukkan berapa kali laba dibayar oleh investor, earnings yield menunjukkan berapa besar laba yang dihasilkan terhadap harga yang dibayar.

Angka 5% ini bukan janji dan bukan prediksi. Ia hanya menyampaikan satu hal: inilah gambaran imbal hasil berbasis laba saat ini, dengan asumsi kondisi perusahaan bersifat statis.

  • Jika laba tumbuh, imbal hasil investor bisa meningkat.
  • Jika laba turun, imbal hasil bisa menyusut.

Dari laba perusahaan ke manfaat investor

Persoalannya, laba yang dihasilkan perusahaan dan laba yang masuk ke kantong investor adalah dua hal berbeda. Perusahaan tidak membagikan seluruh labanya. Sebagian ditahan untuk ekspansi, memperkuat neraca, atau menjaga fleksibilitas keuangan.

Misalnya, perusahaan tadi secara historis hanya membagikan 20% laba sebagai dividen. Dari EPS Rp500, dividen per saham berarti sekitar Rp100.

Perhitungannya:

$$100 \div 10.000 = 1\%$$

Di titik ini, investor mulai melihat perbedaan penting antara earning power perusahaan dan manfaat kas yang benar-benar diterima pemegang saham. Harga pasar bisa terlihat wajar, tetapi manfaat aktual yang diterima investor ternyata sangat tipis.

Optimisme: Sah, asalkan asumsinya jelas

Di sinilah optimisme biasanya masuk. Investor berkata, “Tenang, laba ke depan bisa naik.”

Optimisme tidak salah. Namun, ia baru bermakna jika asumsi-asumsinya jelas. Jika manfaat awal hanya 1%, lalu laba perusahaan:

  • Naik 2 kali lipat, maka dividend yield terhadap harga beli awal menjadi sekitar 2%.
  • Naik 4 kali lipat, maka dividend yield terhadap harga beli awal menjadi sekitar 4%.

Perhitungan ini berlaku dengan asumsi:

  1. Rasio pembagian dividen (DPR) tetap.
  2. Dihitung terhadap harga beli investor, bukan harga pasar saat itu.

Dalam praktik, ketika laba naik, harga saham sering ikut naik. Maka yield on cost investor lama memang meningkat, tetapi current yield bagi pembeli baru belum tentu ikut membaik.

Di sini terlihat jelas bahwa optimisme memang memperbaiki potensi hasil, tetapi ia menuntut pertumbuhan yang besar dan berkelanjutan. Saham tidak otomatis menjadi murah hanya karena ceritanya besar.

Ketika harga sudah membayar masa depan di muka

Dalam praktik pasar Indonesia, tidak jarang ditemui kondisi ekstrem. Misalnya, sebuah saham memiliki EPS Rp50, tetapi diperdagangkan di harga Rp15.000.

Perhitungannya:

$$50 \div 15.000 \approx 0,33\%$$

Ini adalah contoh saham dengan earnings yield sangat rendah. Kondisi seperti ini umum terjadi pada saham teknologi atau saham berbasis cerita—yakni saham yang valuasinya lebih banyak didorong oleh narasi pertumbuhan masa depan ketimbang laba saat ini.

Dalam kondisi seperti ini, investor tidak membeli manfaat hari ini. Ia membeli harapan bahwa suatu hari nanti laba akan cukup besar untuk membenarkan harga yang sudah dibayar sekarang. Konsekuensinya jelas: waktu tunggu manfaat menjadi panjang, toleransi kesalahan menjadi kecil, dan risiko sepenuhnya berada di pihak investor.

Catatan penting: Ketika earnings yield tinggi justru menjebak

Sebaliknya, earnings yield yang tampak tinggi juga tidak selalu berarti murah.

Dalam sektor siklikal—seperti komoditas atau industri berbasis siklus—laba bisa berada di puncak sementara. EPS terlihat besar, earnings yield tampak menarik, padahal laba tersebut tidak berulang. Hal yang sama bisa terjadi ketika laba terdorong oleh keuntungan satu kali (one-off gain).

Dalam kondisi seperti ini, saham terlihat murah secara angka, tetapi tidak murah secara substansi. Maka earnings yield perlu dibaca bersama kualitas dan keberlanjutan laba, bukan berdiri sendiri.

Tren, pemain besar, dan disiplin yang berbeda

Di titik ini, sebagian orang berkata, “Fundamental itu lambat. Yang penting tren.”

Pandangan ini bukan tanpa dasar. Mengikuti tren memang bisa menghasilkan uang. Namun, sumber keuntungannya berbeda: ia bergantung pada pergerakan harga dan perilaku kerumunan, bukan pada kinerja bisnis. Pendekatan ini menuntut disiplin yang berbeda—terutama disiplin keluar tepat waktu, yang sering kali justru lebih sulit daripada disiplin masuk.

Hal serupa berlaku ketika seseorang berkata, “Ikut saja pemain besar.” Pemain besar bisa masuk lebih awal dan keluar lebih cepat. Investor kecil sering masuk ketika cerita sudah ramai. Tanpa pemahaman nilai, investor kecil tidak tahu kapan alasan awal untuk ikut sebenarnya sudah tidak berlaku lagi.

Pendekatan-pendekatan ini tidak salah, tetapi risikonya berbeda. Masalah muncul ketika pendekatan spekulatif diperlakukan sebagai investasi jangka panjang.

Right Issue dilihat dari sudut manfaat pemegang saham

Cara berpikir tentang harga dan manfaat menjadi sangat penting ketika membaca right issue (HMETD).

Misalnya, sebuah perusahaan memiliki laba Rp100 miliar dengan jumlah saham 1 miliar lembar. EPS-nya berarti Rp100. Jika perusahaan melakukan right issue sehingga jumlah saham bertambah menjadi 1,3 miliar lembar, sementara laba belum berubah, maka:

$$100 \text{ miliar} \div 1,3 \text{ miliar} \approx \text{Rp}76,92 \text{ per saham}$$

EPS turun, bukan karena bisnis memburuk, tetapi karena manfaat yang sama dibagi ke lebih banyak pemilik (dilusi).

Agar EPS kembali ke Rp100, laba perusahaan harus naik menjadi sekitar Rp130 miliar. Nilai baru benar-benar tercipta bagi pemegang saham lama jika dana hasil right issue mampu menghasilkan pertumbuhan laba yang melebihi dilusi dan biaya modal (cost of capital).

Tanpa pertumbuhan seperti itu, right issue hanyalah penambahan modal—bukan penciptaan nilai bagi pemegang saham yang sudah ada.

Kesadaran sebelum keputusan

Investasi bukan tentang seberapa ramai ceritanya, atau seberapa besar keberanian kita masuk. Investasi adalah tentang berapa manfaat yang masuk akal dari harga yang kita bayar.

Mengikuti tren, pemain besar, atau spekulasi adalah pilihan yang sah, selama disadari sebagai pilihan dengan struktur risiko yang berbeda.

Namun, tanpa pemahaman nilai, investor bukan sedang berinvestasi; ia sedang bertaruh bahwa kerumunan akan terus bertambah. Kesadaran inilah yang menjadi fondasi keputusan yang lebih sehat—bukan agar selalu benar, tetapi agar kesalahan tidak menjadi fatal.